Waktu kami tidak banyak. Pukul 7 kami sudah keluar penginapan, dengan barang tetap ditinggal, mencari sarapan, lalu akan melaju ke Grand Palace, puluhan kuil Buddhist yang mewah dan berada di satu kompleks dengan kediaman raja. Dengan kondisi pukul 1 siang kami harus ke Suvarnabhumi untuk terbang ke Phuket pukul 14.40.
Catatan: tidak ada perbedaan jam antara Bangkok dan Jakarta (sama-sama GMT+7).
Kami sarapan bubur ayam di depan gang letak Amarin Inn. Kami yakin tidak ada pork karena semalam kami lihat penjualnya berjilbab yang berarti juga muslim. Harganya 25 THB. Porsi bubur 1 mangkuk lumayan banyak.. sehingga aku memakannya berdua dengan temanku. Racikannya diberi telur mentah, daun seledri, daun mint, suwiran ayam, dan jahe. Kita tentunya tidak suka jahe di dalam bubur ayam..
Walau Thailand khas dengan Tuk-Tuknya, tapi selama kami di Thailand, kami tidak naik Tuk-Tuk. Toh Bajaj di Indonesia juga serupa dengan Tuk-Tuk
Setelah selesai sarapan, kita berjalan ke sebelah kiri, mendekati benteng yang kuceritakan tadi malam. Kami menyeberang jalan ke arah benteng itu, lalu melalui jalan setapak menuju Pra Athit Pier (Pier - Pelabuhan). Nomor pelabuhannya N9.
Catatan: Jangan terkecoh dengan pembelian tiket di Pier, karena biasanya yang seperti itu adalah untuk kapal touring. Sedangkan untuk kapal umum, kita bisa bayar di atas kapal 14 THB sekali perjalanan (jadi ke pelabuhan manapun, tetap seharga itu). Tenang... ada kernetnya kok
Oya, kita menuju N13 yaitu Chang Pier. Sebenarnya bisa juga di N14, yaitu Thien Pier. Tapi Thien Pier akan lebih dekat ke Wat Pho (yang terkenal dengan patung raksasa Buddha tidurnya), sedangkan Chang Pier lebih dekat ke Grand Palace. Kami akan ke Wat Pho setelah dari Grand Palace jika sempat.
Begitu kami di atas kapal, aku agak salut, karena walau Sungai Chao Praya ini kecoklatan karena sedikit bercampur lumpur dan tanah, tapi tidak ada sampah. Kalaupun ada, yah kecil sekali jumlahnya. Jadi transportasi sungai pun dapat berjalan optimal..
Sesampai di Chang Pier, kita berjalan kaki sedikit ke Grand Palace. Gambar di samping adalah jalan menyusuri Grand Palace setelah kami menyeberang dari Chang Pier (di setiap Pier ada semacam pasar, cukup keluar dari pasar ke arah jalan besar). Waktu itu pukul 8.00. Panasnya udara bukan main... Bahkan semalam pun udara panas dan pengap. Jam bukanya 8.30 AM. Tapi saat itu baru dibuka pukul 9.00.
Catatan: jangan pakai celana/rok pendek, kecuali Anda mau disuruh tunggu di luar alias ga boleh masuk
Kalau mau, sebaiknya dibalut dengan kain. Di sekitar Grand Palace ada yang menyewakan kain (kalau kita tidak bawa kain) tapi yah merogoh kocek sekitar 30-50 THB
Loket tiket tidak ada di depan gerbang, melainkan di dalam. Beberapa meter berjalan ke dalam, baru deh ada loket tiket.. Harga tiketnya 350 THB untuk bisa masuk area kompleks Grand Palace. Yang masuk cuma aku, dan 2 teman kuliahku dulu. Kukira tiket itu termasuk untuk ke Wat Pho dan Wat Arun (yang tidak sekompleks), ternyata terpisah.
Di dalam, ada miniatur Angkor Wat yang ada di Kamboja. Dan banyak kuil-kuil berdiri megah (yang kami rasa) diselimuti cairan emas yang memukau mata.. Bukan main... mereka benar-benar serius menggarap kuil-kuil itu. Apa kita di Indonesia benar-benar menggarap mushalla atau mesjid dengan serius?!
Di dalam kompleks ada Emerald Buddha yang menjadi pusat tempat ibadah sepertinya. Sayangnya kita tidak boleh ambil foto Emerald Buddha di dalam, karena mungkin akan mengganggu pengunjung yang sedang beribadah.
Nah.. Berikut foto dari Grand Palace itu sendiri. Karena sebenarnya bangunan ini inti dari kompleks puluhan kuil tersebut.
Kita tidak lama berada di dalam. Begitu puas mengambil gambar dan mengagumi puluhan kuil megah itu, kita keluar menjumpai 3 kawan seperjalanan kita yang tidak minat masuk ke Grand Palace. Mereka menunggu di luar kepanasan. Kasian juga..
Kemudian, kita berjalan ke arah Wat Pho yang masih terjangkau dari Chang Pier.. Tiba-tiba ada supir Tuk Tuk yang bilang Wat Pho sedang tutup karena hari besar Buddhist, sehingga dipakai ibadah sampai jam 1 siang. Sedangkan kita jam 1 siang akan ke bandara. Yah, saat itu kita percaya saja.. Kita bilang, ya sudahlah lain kali saja ke Wat Pho. Namun si supir Tuk Tuk malah seakan memaksa kita untuk jalan-jalan dengan Tuk Tuknya dulu sampai Wat Pho dibuka untuk umum. Ya temanku menegaskan kalau kita mau terbang jam 1 siang. Sampai di kali selanjutnya kita ke Wat Pho, ah.. nanti saja kuceritakan di post selanjutnya sekembalinya dari Phuket yah..
mengenai kenapa si supir Tuk Tuk itu memaksa banget kita untuk naik Tuk Tuknya.. dan hari besar Buddhist apa yang membuat Wat Pho tutup ?!
Nah, karena kami semua percaya Wat Pho tutup, kita makan siang sebentar (makan Martabak lagi bo... 30 THB) lalu beranjak naik kapal balik ke Pra Athit Pier menuju Amarin Inn, mengambil barang-barang kita, lalu berangkat ke bandara Suvarnabhumi. Karena kita sulit menemukan taksi yang seperti mini van lagi, maka kita naik 2 taksi dengan kesepakatan 1 taksi 400 THB (berikut uang tol yang sekitar 50 THB). Sepertinya 2 supir taksi ini berusaha mengakali kita, karena kalau dengan argo dan uang tol, mungkin hanya habis 370-380 THB. Jadi mereka tidak menyalakan argo. Ketika di dalam taksi, kita coba mengobrol bahwa mungkin saja jika dengan argo, harganya bisa lebih murah. Entah si supir mengerti atau ia merasa ada supir taksi yang menyadari bahwa taksi kita argonya mati, ia langsung menyalakan argo. Dan kita terbengong-bengong
takutnya si supir tersinggung kita bicara mengenai argo akal-akalannya.. Yah.. yang penting sampai bandara deh.. 
Catatan: sebaiknya waktu dapat taksi mini van di bandara, segera pesan untuk keberangkatan selanjutnya, sehingga tidak susah cari taksi mini van.
Kami bersiap untuk terbang ke Phuket... Dari atas pesawat, bagus sekali pemandangan Phuket itu...
Sesampainya di Phuket, ternyata temanku sudah menyewa mobil (semacam tour car, infonya didapat dari Kaskus
) yang bisa mengantar jemput kita dari/ke hotel ke/dari tempat wisata. Cuma penyewaannya tanggal 9 Juli dan 11 Juli. Karena tanggal 10 Juli nya, seharian penuh kita akan pakai agen tour untuk island tour dan nonton Fantasea. Jadi diantar jemputnya oleh agen tour. Kali ini dengan tour car yang drivernya Mr. Pong. Nomor teleponnya 085-7876085. Biaya sewanya 1,700 THB. Yang di foto itu satu temanku, bukan si Mr. Pong 
Sebelum kita diajak jalan-jalan, kita diantar ke agen tour untuk island tour besok. Sekalian beli tiket di agen tour itu untuk nonton Fantasea. Di agen tour, kita ditawarkan 2 pilihan; Phi Phi Island Tour atau James Bond Island Tour. Katanya kebanyakan orang Asia suka dengan James Bond Island Tour. Tapi jika kita ambil James Bond Island Tour, no snorkling, no swimming! Walaupun yang niat snorkling dari kita berenam cuma Shinta, tapi kita juga merasa ga puas kalau cuma James Bond Island. Kalau kita ambil Phi Phi Island, bukan cuma 1 pulau, tapi 3 pulau yang akan disinggahi dan juga kita akan singgah di beberapa spot. So... kita putuskan ambil Phi Phi Island Tour. Biayanya awalnya dikenakan 2,000 THB. Tapi setelah tawar menawar yang alot, deal dengan 1,600 THB, tapi juga dengan kondisi kita ber-6 semua ikut dan kita juga beli tiket Fantasea (semacam pentas sendratari drama) di agen itu juga..
Tiket Fantasea dikenakan 1,800 THB dan itu hardsell, karena langsung dari dinas penyelenggara Fantaseanya sendiri. 1,600 THB itu termasuk kapal speed boat menampung sekitar 20 orang (padahal nyatanya 40 orang lebih..), makan siang, dan peralatan snorkling kecuali fin. Kalau fin, harus sewa lagi sekitar 40 THB (CMIIW).
Catatan: transaksi dengan credit card di Thailand ada tax 30%. Buat yang mau hemat, mending sedia cash. Tapi buat yang ga mau repot, siap-siap dengan tagihan tambahan itu ya..
Setelah dari agent tour, kita diantar jalan ke View Point oleh Pak Pong, dilanjutkan makan malam, baru nanti diantar ke hotel Sugar Palm Beach Resort. Ke View Point dari bandara Phuket sekitar 2 jam. Dari tempat parkir, kita jalan sekitar 2 menit kali yah.. ke View Point. View Point sebenarnya seperti tempat di mana kita bisa melihat sunset di Phuket. Padahal hari agak mendung, tapi viewnya teteup aduhai..
Dan setelah kita puas melihat-lihat di View Point, kita diantar untuk makan malam di restoran seafood. Aku lupa namanya apa, tapi Pak Pong ini yang mengantar kita. Kita pesan cumi, ikan, udang, nasi, sayur, dan minum, sehingga menghabiskan 2,525 THB wow...
Setelah itu, kita berbincang-bincang sedikit dengan Pak Pong. Di post pertama aku pernah takjub dengan Tom Yam yang manis. Seharusnya Tom Yam asli Thailand rasanya asam menyegarkan. Dan Pak Pong bilang, itu karena sudah terpengaruh dengan taste Singapore, jadi terasa manis.. Lain halnya jika di Phuket, Tom Yam akan terasa asli asam (seperti seharusnya..)
Dan... tiba waktunya kita beristirahat di hotel Sugar Palm Beach Resort. Temanku pesan 3 kamar double, dan menghabiskan 1,891,049 IDR yang dibagi 6 menjadi @315,075 IDR, ditambah kejutan lagi, kamar kita di-upgrade jadi kamar deluxe..
Yah, rejeki ga kemana-mana.. Ini foto di siang hari keesokan harinya.. Selanjutnya, kita akan mengarungi lautan.. 
Catatan: tidak ada perbedaan jam antara Bangkok dan Jakarta (sama-sama GMT+7).
Kami sarapan bubur ayam di depan gang letak Amarin Inn. Kami yakin tidak ada pork karena semalam kami lihat penjualnya berjilbab yang berarti juga muslim. Harganya 25 THB. Porsi bubur 1 mangkuk lumayan banyak.. sehingga aku memakannya berdua dengan temanku. Racikannya diberi telur mentah, daun seledri, daun mint, suwiran ayam, dan jahe. Kita tentunya tidak suka jahe di dalam bubur ayam..
Walau Thailand khas dengan Tuk-Tuknya, tapi selama kami di Thailand, kami tidak naik Tuk-Tuk. Toh Bajaj di Indonesia juga serupa dengan Tuk-Tuk
Setelah selesai sarapan, kita berjalan ke sebelah kiri, mendekati benteng yang kuceritakan tadi malam. Kami menyeberang jalan ke arah benteng itu, lalu melalui jalan setapak menuju Pra Athit Pier (Pier - Pelabuhan). Nomor pelabuhannya N9.
Catatan: Jangan terkecoh dengan pembelian tiket di Pier, karena biasanya yang seperti itu adalah untuk kapal touring. Sedangkan untuk kapal umum, kita bisa bayar di atas kapal 14 THB sekali perjalanan (jadi ke pelabuhan manapun, tetap seharga itu). Tenang... ada kernetnya kok
Oya, kita menuju N13 yaitu Chang Pier. Sebenarnya bisa juga di N14, yaitu Thien Pier. Tapi Thien Pier akan lebih dekat ke Wat Pho (yang terkenal dengan patung raksasa Buddha tidurnya), sedangkan Chang Pier lebih dekat ke Grand Palace. Kami akan ke Wat Pho setelah dari Grand Palace jika sempat.
Begitu kami di atas kapal, aku agak salut, karena walau Sungai Chao Praya ini kecoklatan karena sedikit bercampur lumpur dan tanah, tapi tidak ada sampah. Kalaupun ada, yah kecil sekali jumlahnya. Jadi transportasi sungai pun dapat berjalan optimal..
Sesampai di Chang Pier, kita berjalan kaki sedikit ke Grand Palace. Gambar di samping adalah jalan menyusuri Grand Palace setelah kami menyeberang dari Chang Pier (di setiap Pier ada semacam pasar, cukup keluar dari pasar ke arah jalan besar). Waktu itu pukul 8.00. Panasnya udara bukan main... Bahkan semalam pun udara panas dan pengap. Jam bukanya 8.30 AM. Tapi saat itu baru dibuka pukul 9.00.
Catatan: jangan pakai celana/rok pendek, kecuali Anda mau disuruh tunggu di luar alias ga boleh masuk
Loket tiket tidak ada di depan gerbang, melainkan di dalam. Beberapa meter berjalan ke dalam, baru deh ada loket tiket.. Harga tiketnya 350 THB untuk bisa masuk area kompleks Grand Palace. Yang masuk cuma aku, dan 2 teman kuliahku dulu. Kukira tiket itu termasuk untuk ke Wat Pho dan Wat Arun (yang tidak sekompleks), ternyata terpisah.
Di dalam, ada miniatur Angkor Wat yang ada di Kamboja. Dan banyak kuil-kuil berdiri megah (yang kami rasa) diselimuti cairan emas yang memukau mata.. Bukan main... mereka benar-benar serius menggarap kuil-kuil itu. Apa kita di Indonesia benar-benar menggarap mushalla atau mesjid dengan serius?!
Di dalam kompleks ada Emerald Buddha yang menjadi pusat tempat ibadah sepertinya. Sayangnya kita tidak boleh ambil foto Emerald Buddha di dalam, karena mungkin akan mengganggu pengunjung yang sedang beribadah.
Nah.. Berikut foto dari Grand Palace itu sendiri. Karena sebenarnya bangunan ini inti dari kompleks puluhan kuil tersebut.
Kita tidak lama berada di dalam. Begitu puas mengambil gambar dan mengagumi puluhan kuil megah itu, kita keluar menjumpai 3 kawan seperjalanan kita yang tidak minat masuk ke Grand Palace. Mereka menunggu di luar kepanasan. Kasian juga..
Kemudian, kita berjalan ke arah Wat Pho yang masih terjangkau dari Chang Pier.. Tiba-tiba ada supir Tuk Tuk yang bilang Wat Pho sedang tutup karena hari besar Buddhist, sehingga dipakai ibadah sampai jam 1 siang. Sedangkan kita jam 1 siang akan ke bandara. Yah, saat itu kita percaya saja.. Kita bilang, ya sudahlah lain kali saja ke Wat Pho. Namun si supir Tuk Tuk malah seakan memaksa kita untuk jalan-jalan dengan Tuk Tuknya dulu sampai Wat Pho dibuka untuk umum. Ya temanku menegaskan kalau kita mau terbang jam 1 siang. Sampai di kali selanjutnya kita ke Wat Pho, ah.. nanti saja kuceritakan di post selanjutnya sekembalinya dari Phuket yah..
Nah, karena kami semua percaya Wat Pho tutup, kita makan siang sebentar (makan Martabak lagi bo... 30 THB) lalu beranjak naik kapal balik ke Pra Athit Pier menuju Amarin Inn, mengambil barang-barang kita, lalu berangkat ke bandara Suvarnabhumi. Karena kita sulit menemukan taksi yang seperti mini van lagi, maka kita naik 2 taksi dengan kesepakatan 1 taksi 400 THB (berikut uang tol yang sekitar 50 THB). Sepertinya 2 supir taksi ini berusaha mengakali kita, karena kalau dengan argo dan uang tol, mungkin hanya habis 370-380 THB. Jadi mereka tidak menyalakan argo. Ketika di dalam taksi, kita coba mengobrol bahwa mungkin saja jika dengan argo, harganya bisa lebih murah. Entah si supir mengerti atau ia merasa ada supir taksi yang menyadari bahwa taksi kita argonya mati, ia langsung menyalakan argo. Dan kita terbengong-bengong
Catatan: sebaiknya waktu dapat taksi mini van di bandara, segera pesan untuk keberangkatan selanjutnya, sehingga tidak susah cari taksi mini van.
Kami bersiap untuk terbang ke Phuket... Dari atas pesawat, bagus sekali pemandangan Phuket itu...
Sesampainya di Phuket, ternyata temanku sudah menyewa mobil (semacam tour car, infonya didapat dari Kaskus
Sebelum kita diajak jalan-jalan, kita diantar ke agen tour untuk island tour besok. Sekalian beli tiket di agen tour itu untuk nonton Fantasea. Di agen tour, kita ditawarkan 2 pilihan; Phi Phi Island Tour atau James Bond Island Tour. Katanya kebanyakan orang Asia suka dengan James Bond Island Tour. Tapi jika kita ambil James Bond Island Tour, no snorkling, no swimming! Walaupun yang niat snorkling dari kita berenam cuma Shinta, tapi kita juga merasa ga puas kalau cuma James Bond Island. Kalau kita ambil Phi Phi Island, bukan cuma 1 pulau, tapi 3 pulau yang akan disinggahi dan juga kita akan singgah di beberapa spot. So... kita putuskan ambil Phi Phi Island Tour. Biayanya awalnya dikenakan 2,000 THB. Tapi setelah tawar menawar yang alot, deal dengan 1,600 THB, tapi juga dengan kondisi kita ber-6 semua ikut dan kita juga beli tiket Fantasea (semacam pentas sendratari drama) di agen itu juga..
Tiket Fantasea dikenakan 1,800 THB dan itu hardsell, karena langsung dari dinas penyelenggara Fantaseanya sendiri. 1,600 THB itu termasuk kapal speed boat menampung sekitar 20 orang (padahal nyatanya 40 orang lebih..), makan siang, dan peralatan snorkling kecuali fin. Kalau fin, harus sewa lagi sekitar 40 THB (CMIIW).
Catatan: transaksi dengan credit card di Thailand ada tax 30%. Buat yang mau hemat, mending sedia cash. Tapi buat yang ga mau repot, siap-siap dengan tagihan tambahan itu ya..
Setelah dari agent tour, kita diantar jalan ke View Point oleh Pak Pong, dilanjutkan makan malam, baru nanti diantar ke hotel Sugar Palm Beach Resort. Ke View Point dari bandara Phuket sekitar 2 jam. Dari tempat parkir, kita jalan sekitar 2 menit kali yah.. ke View Point. View Point sebenarnya seperti tempat di mana kita bisa melihat sunset di Phuket. Padahal hari agak mendung, tapi viewnya teteup aduhai..
Dan setelah kita puas melihat-lihat di View Point, kita diantar untuk makan malam di restoran seafood. Aku lupa namanya apa, tapi Pak Pong ini yang mengantar kita. Kita pesan cumi, ikan, udang, nasi, sayur, dan minum, sehingga menghabiskan 2,525 THB wow...
Dan... tiba waktunya kita beristirahat di hotel Sugar Palm Beach Resort. Temanku pesan 3 kamar double, dan menghabiskan 1,891,049 IDR yang dibagi 6 menjadi @315,075 IDR, ditambah kejutan lagi, kamar kita di-upgrade jadi kamar deluxe..




















