Wednesday, July 27, 2011

Bakelok-kelok Jalan ka Maninjau (11/07/27)

Pagi... kali ini kami berencana hanya menggunakan jasa Uda Ari hanya setengah hari.. karena setelah itu kami hanya akan berputar-putar di tengah kota, di sekitar Jam Gadang. Kata Uda Gusmal, kami bisa menyewa hanya setengah hari dengan harga Rp.250,000,- Lumayann... (happy)

Tujuan pertama kami adalah Danau Maninjau. Pagi hari, Uda Ari sudah menjemput kami untuk menuju Danau Maninjau. Keadaan danau ini berbeda dengan Danau Singkarak. Danau Singkarak bentuknya seperti sungai yang besar. Sedangkan Danau Maninjau seperti danau yang lebar.. dan sepertinya dalam, riaknya sampai tidak terlihat. Sebelum sampai di danau ini, kami melewati kurang lebih 44 kelokan jalan yang terkenal dengan nama Kelok Ampe Puluh Ampe (Kelok 44)

Saat kami sudah sampai di tepi Danau Maninjau, kami agak bingung. Kenapa kami diantar cuma sampai kafe di sekitar Danau Maninjau.. Tapi ya sudahlah, kami tidak mau membahas, cuma menikmati pemandangan.

Saat kami sedang foto-foto, beberapa kali penjaga kafenya menyapa, "Silakan duduk.." Tadinya kami ragu, karena takutnya kami harus bayar kalau duduk. Ternyata... lebih dari itu. Ada kertas larangan pengunjung hanya berfoto-foto. Pengunjung harus juga makan/minum di sana untuk bisa menikmati pemandangan. Yaaaa..... (frustrated) Akhirnya kami memesan makanan yang merogoh kocek kami Rp.76,000 untuk bertiga (dengan Uda Ari).

(Perjalanan kembali ke tengah kota)

Sayangnya perutku setelah dari sana mulai tidak beres. Bahkan hampir muntah begitu melewati banyak kelokan. (sick) Wah.. karena kondisi saya juga sudah ga menahan , kami memutuskan setelah itu cukup ke tempat oleh-oleh dan balik ke hotel. Tadinya kami sempat mau mampir ke Pandai Sikek, tempat kerajinan tenun.

Akhirnya, kami diantar ke tempat penjualan oleh-oleh Keripik Sanjai. Nama tokonya Sanjai Nitta. Kata Uda Ari, keripik di sini lebih enak daripada di toko-toko lain. (Tapi menurutku, tidak juga. Di tempat lain juga ada yang enak (tongue)) Kami beli sekitar 6 bungkus untuk di rumah dan untuk keluarga suamiku, total Rp.90,000.

Selama di jalan kembali ke hotel, kami sudah mencari-cari penginapan selanjutnya untuk 1 malam saja. Dan ternyata di Hotel Nikita (sebelah Hotel Kharisma) ada yang akan check out. Horree.. Kami dapat Suite Room Rp.410,000.

Kabarnya ada gulai itik yang enak di dekat Ngarai Sianok, yang tidak jauh dari Jam Gadang. Nah, kami berencana makan siang di sini (happy) Setelah kami istirahat sejenak di kamar baru, kami naik angkot ke Pasar Bawah no. 14 @Rp.2,000. Dari Pasar Bawah, kami bertanya-tanya ke orang sekitar bagaimana mencapai Ngarai Sianok. Setelah ditunjukkan jalan, kami berjalan sedikit, lalu kami naik angkot ke Ngarai Sianok no.12 @Rp.2,500. Angkot ini agak ngetem dan baru jalan kalau sudah penuh. Karena tujuannya ke arah kampung.

Untungnya kami pernah melewati dan ditunjukkan jalan ke Ngarai Sianok waktu mau ke Danau Maninjau bersama Uda Ari. Jadi kami tidak tersesat begitu angkot sudah melewati kawasan ngarai (cuma hampir tersesat (whew!)) karena kendaraan-kendaraan umum di Bukittinggi memang relatif ngebuttt.. Mungkin karena medannya yang lapang dan luas. Saat kami sadar kami di kawasan Ngarai Sianok, kami tanya jalan Ngarai Binuang, di mana ada Kedai Nasi Gulai Itiak Lado Mudo. Dan ditunjukkan perhentiannya oleh salah satu penumpang, yaitu di jembatan yang sekelilingnya ngarai dan ada palang di jembatan itu bertuliskan "Ngarai Sianok". Setelah kami turun, kami berfoto-foto sebentar di sekitar Ngarai Sianok.


Setelah berjalan panas-panas, dan bertanya ke seseorang yang mengira kami turis, wkwk (laughing) sampailah kami di Kedai Nasi Gulai Itiak Lado Mudo (Warung Nasi Gulai Itik Lada Muda). Mungkin itiknya itik muda :D Kami pesan Aqua 2, perkedel 2, dan dada itik 2 potong serta nasi. Totalnya Rp.66,000. Umm.. sejauh yang saya tahu dari milis, ga semahal itu sih.. Tapi... rasanya memang ueeenaaakkk... Suami sampai nambah nasi berapa piring. Untung nasi yang disajikan 1 bakul kecil, jadi gampang nambahnya. Hehe.. (big grin)

Setelah kami kenyang dan sebentar menurunkan makanan, kami kembali mengitari Jam Gadang. Konon, ada makanan Nasi Kapau Uni Lis yang enak di Pasar Atas.

Jadi setelah kami naik angkot no.12, kami berjalan kaki dan bertanya-tanya ke sekitar, di mana Nasi Kapau Uni Lis. Setelah sampai, kami agak bingung, karena Uni Lis sendiri ibu-ibu tua yang sepertinya kurang mengerti selain bahasa Minang. Sedangkan kami juga tidak bisa bahasa Minang. Jadi kami asal menunjuk makanan yang kami mau. Kalau tidak ditunjuk, uni langsung memilih-milih banyak lauk dan dicampur ke bungkus nasi kami.

Karena bingung, kami hanya pilih rendang dan ayam sayur, dan sedikit sayuran.. Rp.36,000. Mahal juga.. (money eyes)

Setelah itu, kami berfoto-foto di dekat Jam Gadang (yang kabarnya lebih bagus kalau foto diambil di malam hari..). Termasuk foto-foto di patung pahlawan depan gedung Bung Hatta.

Setelah puas, kami balik ke hotel, tidak menunggu malam. Dan makan malam kami adalah Nasi Kapau Uni Lis.

Umm.. sejauh yang kami rasa, pendapat kami sama.. Biasa saja. Kami masih lebih suka nasi padang yang kami beli pertama kali di RM Padang Simpang Raya di sekitar Jam Gadang.

Tidak terasa itu malam terakhir kami di Bukittinggi.. Dan memang betul kata orang, makanan daerah Sumatra Barat enakkk semua. Tapi siap-siap perut bergejolak karena hampir semuanya pakai santan dan bumbunya spicy.. (thumbs up)

Bahkan kami sangat suka sarapan di hotel, enak... dari nasi soto nya.. kue lupis, bubur ayam, lontong sayur, nyam nyam nyam... (big grin)
Sampai jumpa lagi... high hill.. (happy)

Tuesday, July 26, 2011

Berbukit-bukit Dahulu (11/07/26)

Setelah kami confirm mengenai mobil yang akan kami pakai dari Pak Gusmal, jam 9.00 kami dijemput Uda Ari (driver) yang mengantar kami ke Lembah Harau dulu. Tiket masuknya @Rp.2,500. Dari jauh view-nya bagus sekali. Begitu sudah mendekat, ada tangga ke atas lembah untuk melihat pemandangan.

















Tapi karena tinggi dan curam sekali, kami (saya sih..) sudah ketakutan (worried) jadi kami turun lagi.. cukup berjalan-jalan di sekitar lembah tidak jauh dari parkir mobil Uda Ari. Setelah foto-foto, kami berkeliling lagi diantar Uda Ari ke beberapa spot dimana ada air terjun kecil (sayang sedang kering karena musim kemarau..)






Setelah dari Lembah Harau, kami berangkat ke Istana Pagaruyung. Di tengah perjalanan, ada Gua Ngalok Indah. Uda Ari menawarkan kami untuk singgah ke sini. Karena hari masih siang, apa salahnya (big grin)

Kami bersinggah ke gua ini dengan tiket masuk @Rp.5,000. Guanya tidak terlalu besar dan terdapat stalagtit dan stalagmit. Walaupun kecil, tapi di dalamnya cukup gelap. Kami berhati-hati untuk tidak jatuh.

Setelah dari Gua Ngalok Indah, kami melanjutkan perjalanan..



Ternyata perjalanan ke Istana Pagaruyung cukup jauh. Hari itu sudah siang dan akhirnya kami memutuskan untuk makan siang dulu, di restoran rekomendasi Uda Ari (happy)

Restoran yang kami singgahi bernama Flora Restaurant (Spesialis Ikan Bakar). Banyak juga tourist yang singgah di sini. Tempatnya seperti pondokan di pinggir danau. Ummm... enaknya.. Udaranya juga segar.. Memang masakan Sumatra Barat enak-enak kali yah... (big grin) Suamiku sampai lahap sekali.. hehe (laughing)

Makanan disajikan seperti di restoran padang. Semua menu ditaruh di meja. Tinggal pilih.. dipilih.. dipilih.. (big grin)
Menu yang kami pilih adalah nasi, ikan bakar (pastinya.. kan restoran spesialis ikan bakar (big grin)), 2 ayam panggang, jus alpukat, jus jeruk, dan kerupuk. Tebak biaya yang habis berapa..? hanya Rp.76,000!! wow.. sebanyak itu kami makan, semurah itu kami bayar.. cihuy.. (rock on!)

Setelah kenyang, kami shalat di restoran itu, dan melanjutkan perjalanan ke Istana yang kabarnya sering terbakar. Terakhir kali terbakar karena tersambar petir. Alamak... Tapi semoga saja kali ini kami datang, istananya sudah dipugar kembali. Dan... alhamdullillah terkabul. (big grin)


Tapi sayangnya, kami tidak bisa masuk ke istana utamanya.. (yang masih dalam pemugaran). Padahal kami sempat dengar, pengunjung bisa berfoto dengan busana adat di istana ini.. (sad)

Cat: Ohya, di istana ini tidak ada tiket masuk. Tapi ada kotak sumbangan yang sebaiknya diisi dekat buku tamu (ada yang jaga (big grin) ga bisa kabur karena ga bayar (big grin) )




Inilah Uda Julius yang mencoba memukul bedug di Istana Pagaruyung.. xixi (peace sign)
Dan Siti Nurbaya menunggu Samsul Bahri.. hehe (winking)

Selesai berfoto-foto, kami lanjut ke Danau Singkarak. Tiket masuk @Rp.10,000. Danau Singkarak ini seperti sungai yang sangat besar dan dalam. Arusnya sangat besar walau merupakan danau.


Dari tengah jalan sudah terlihat riaknya.. Rasanya seperti melihat laut (happy) Di tepi danau, ada sepeda air. Sayangnya.. cukup mahal nih.. (atau kami yang tidak berusaha menawar) Setengah jam Rp.60,000 dan 1 putaran Rp.50,000. Kami pilih setengah jam. Itu saja sudah lebih dari cukup untuk 1 putaran. Hmmff.. Tapi untungnya suamiku lagi murah hati.. hehehe (laughing)

Di sisi samping tepi danau, ada pemandangan yang cukup indah. Seperti di pantai, karena penuh dengan pasir berbatu..


Setelah selesai, menjelang sore, kami berbalik ke hotel. Di sebelah kanan (dari arah dalam) Hotel Kharisma, ada Hotel Nikita. Di sebelah kanan Hotel Nikita, ada banyak tempat makan. Bahkan ada batagor khas bandung namanya Batagor Ihsan. ck ck (big grin)
Kami makan malam dengan sate padang 1 porsi (6 tusuk) dengan lontong @Rp.10,000. Sebagai tambahan, kami beli jus mangga dan jus apel di Batagor Ihsan Rp.17,000. Jusnya enak dan bersih (dilihat dari tempatnya), sari buahnya kental dan gulanya bisa dipesan (mau sedikit atau biasa).
Haa.. sehari yang padat.. Sampai besok di perjalanan selanjutnya.. (happy)

P.S. Terima kasih untuk suamiku (big hug)