Tuesday, August 17, 2010

Last Thai night.. We'll be Right Back (10/7/13)

Hari ini rencananya kita akan ke tempat Patung Buddha Tidur yang terkenal di Kamboja itu, tapi ada duplikatnya di Thailand. Aku kurang tau cerita sejarahnya bagaimana. Untuk menjangkau Wat Pho dari Petchaburi, kita naik BTS dari stasiun Siam ke stasiun Saphan Taksin (S6) ke arah stasiun Wongwaian Yai, dengan tarif 30 THB. Setelah itu, naik perahu dari pelabuhan Sathorn atau Sathorn Pier dengan tarif flat 14 THB dibayar di atas perahu, ke Thien Pier, sekitar 5 pelabuhan.

Di perjalanan, kita bisa melihat Wat Arun dengan jelas. Kabarnya, kecantikannya baru terlihat ketika matahari terbenam.. Sayang kita sudah harus pulang malam ini.

Aku pernah cerita di post paling awal begitu kita di Thailand. Kita sempat diberitahukan bahwa Wat Pho tempat Buddha Tidur ini ditutup, dan baru buka 2 atau 3 jam kemudian. Hal yang sama kita temukan kembali. Ada yang aneh bukan? Karena itu, kita nekat ke Wat Pho pada saat itu juga. Dan ternyata! kita ditipu. Tempatnya tidak tutup.. Tujuan para tukang Tuk Tuk itu biar mereka bisa mengajak kita jalan-jalan dulu dengan Tuk Tuk nya, penghasilan tambahan buat mereka.. Maaf para bapak supir Tuk Tuk.. (happy)

Tiket masuknya seharga 50 THB. Patung ini besarnya bukan main... dari ujung ke ujung, besar sekali.. Mungkin tanganku cuma bisa memeluk 1 stupa di ribuan stupa di kepalanya.. Itupun kalau aku bisa menjangkaunya.













Setelah puas berfoto, kita kembali ke Siam naik perahu lagi. Di Thien Pier, ada semacam toko suvenir yang murah juga. Tapi cuma 1 toko.. jadi nawarnya agak alot, soalnya ga ada pesaingnya..

Dan kita kembali lagi berjalan-jalan di Siam, makan siang bersama sambil melihat expat yang banyak juga bekerja di Thailand, lalu membeli manisan untuk oleh-oleh, dan temen-temen yang masih mau belanja, bisa deh dengan leluasanya..

Tas kita drop di hotel, kita titipkan sampai jam 12.00 siang. Setelah itu, kita akan naik taxi ke bandara dengan taxi yang kita pesan dari hotel. Taxinya seperti mini bus, dengan tarif sekitar 1000 THB. Mahal memang, tapi kan kita bawa banyak barang.. Lagipula, kalau patungan, ga terasa mahal kok (big grin)


Akhirnya sampailah kita di bandara. Ada patung yang unik untuk keberangkatan luar negeri, jadi kita berfoto dulu... (happy)

Ha.. tidak terasa sudah 5 hari kita di Thailand, dan rasanya masih belum puas, terutama di Phuket. Yah.. sembari ngobrol, ada keinginan kita bersama untuk kembali ke Phuket, terutama ke James Bond Island.. pantai Patong, dan spot-spot yang belum terjamah di Phuket.. Sampai jumpa lagi Thailand.. Sambutan mereka menurutku cukup ramah, dan keamanan pun, asal bisa jaga diri dengan baik, insyaAllah selamat sampai tujuan..

It's Show (oops.. Shop) Time (10/07/12)

Setelah kemarin mencicipi pasar tradisional Jatujak, kali ini kita mau merambah mall. Kabarnya barang di Thailand murah-murah, seperti halnya Singapura, ya dibanding dengan mall-mall di Indonesia.

Kita awali dengan Siam Paragon, mall yang terkenal di Thailand. Bentuknya kalau kubilang sedikit mirip Grand Indonesia. Dia bersebelahan atau berseberangan dengan Siam Center.

Tadinya kita kurang tau kalau ternyata Siam Paragon dekat dengan hotel kita. Jadi, awalnya kita masih naik BTS 20 THB dari Ratchathewi ke stasiun Siam Center, yang seperti exchange-nya stasiun-stasiun. Btw, ada kedai sushi yang enak lho.. namanya Sushi Bar di stasiun Siam. Murah meriah euy.. mantabs lah, buat isi perut dan menambah kesehatan.. Bagus buat bekal.

Kami berjalan dari Siam Center ke Siam Paragon dan sebaliknya, dan sempet juga mampir ke Crocs, sandal buaya darat yang terkenal itu. hehehe.. Ya.. aku beli yang murah saja dan enak dipakai. Kebetulan kakiku sakittt banget pakai sandal yang sekarang dari hari awal kita bepergian..

Walaupun lumayan memakai sandal baru, tapi ternyata akupun masih salah pilih bentuk. Bagian dalam kaki agak kosong, sehingga sakit-sakit juga setelah beberapa jauh berjalan.. (crying) Yah, sudah terbeli..

Oya, di sini juga aku ketemu satu tas yang dibeli oleh Mbak Lina dan Mbak Hanna, yaitu Ocean Pack, maap nyebut merek yah, hehe.. Ini semacam tas yang multiguna, terlebih berguna untuk rafting atau panjat. Karena bahannya tahan air dan ga mudah sobek. Temen-temenku beli di bandara Phuket sekitar 400-420 THB (kalo ga salah inget) untuk 10 liter. Dan di sini kenanya 450 THB. Sebel juga.. tapi kapan lagi bisa nemu tas kaya gini.. Bungkus... (happy)

Setelah cape, kita berusaha mencari jalan terdekat ke hotel, dan voila.. nemu! Akhirnya kita ga usa repot ke Ratchathewi dulu untuk ke Siam. Deket banget..

Malam itu kita berencana ke pasar tradisional lagi, tapi kali ini Suam Lum Night Bazaar. Pasar ini buka tiap malam, dan banyak banget pernak-pernik Thailand. Memang kalau mau berburu suvenir, yah di sini.. tapi ga rekomen deh kalau mau cari barang murah dan KW yah.. karena memang pangsa pasarnya buat oleh-oleh, bukan murni belanja..

Kita naik BTS ke stasiun Silom ke arah stasiun Sala Daeng. Yah kalo di Jakarta, kaya ke stasiun Dukuh Atas tapi naik kereta ke arah Tanah Abang.. hehehe. Tarifnya sekitar 20 THB. Lalu diteruskan naik MRT dari Silom ke stasiun Lumphini ke arah stasiun Bang Sue. Silom seperti exchange untuk ke stasiun MRT, jadi ga perlu jalan jauh, tinggal turun tangga, masuk deh ke stasiun MRT.

Tiketnya bukan serupa kartu, tapi koin hitam. Pembeliannya juga bisa dengan uang kertas, tapi uang pas, mungkin 5/10 THB juga. Yah.. setidaknya mesinnya menerima uang kertas, jadi ga repot menukar uang kertas dulu.

Setelah sampai di Suan Lum, tempatnya seperti pasar malam, lebih teratur daripada Jatujak yang semrawut dan bisa membuat nyasar.. (big grin)

Sebelum belanja, kita makan dulu.. ada makanan muslim, tapi cuma 1 kedai. Untung sempet beli sushi.. karena rasanya hmm... jauh lebih enak makanan Indonesia.. (crying)


Nah, di sini, barulah aku belanja oleh-oleh..
- tas kotak kecil (11 buah 726 THB, yang berarti satunya 66 THB. Dari harga asli 120 THB. wew... aku berhasil!!! tapi memang si penjual mau menghabiskan dagangannya yg tinggal 11 buah)
- magnet (temanku membeli magnet-magnet, dan aku bantu nawar, sembari beli 1 magnet juga, dapetnya 50 THB, dari 100 THB)
- pajangan (juga begitu.. bantu temen sekaligus beli satu, dapet 70 THB, dari harga asli 100 THB)
- kaos (ini seru.. dari yang tadinya beli 6, lalu naik ke 8, lalu aku beli 4, jadi kita semua beli 1 lusin. harganya dari 100 THB jadi 80 THB/kaos)

Ha.. cape juga.. kita bersiap pulang, karena bentar lagi rangkaian MRT ditutup! Jam malamnya 22.30, sedangkan jam sudah 21.50. Kita lari-larian deh.. hehehe. Hm.. rencana esok selanjutnya, ke tempat patung Buddha Tidur.. (happy)

Last Footprint and Last Taste in Phuket (10/07/11)

Setelah kemarin kami kelelahan, nonstop dari pagi wisata pulau lalu malamnya melihat pertunjukan Fantasea, maka hari ini cukuplah sebagai penutup yang manis di Phuket. Kita berencana untuk berputar-putar ke beberapa spot yang direkomendasikan Pong.

Nanti dimulai dari perkebunan kacang mede yang terkenal di Phuket, lalu toko perhiasan yang terkenal juga di Phuket (bahkan katanya terbesar di dunia..), lalu makan duren, dan setelah itu kita balik ke bandara Internasional Phuket untuk kembali ke Bangkok, meneruskan perjalanan yang tertinggal.. (happy)

Sambil menunggu Pong datang, kita bermain dulu di pantai dekat hotel. Nama pantainya pantai Kata. Pasirnya putih, tapi kalah halus dengan yang di Teluk Maya.. (Maya Bay) Pemandangannya indah.

Phuket memang memukau. Sejauh aku pernah ke Bali, Bali pun ga kalah cantik..

Seperti biasa, aku selalu memfoto jejak kaki di tempat di mana aku merasa travel ini patut diingat.. (smug)

Setelah Pong datang, kita langsung berangkat ke perkebunan kacang mede, Sribhurapa Orchid, sekitar 1-2 jam perjalanan kalau aku ga salah..

Tepat di sebelah perkebunan itu, ada tokonya.. dan ada 1 orang pengolah kacang mede yang memang ditugaskan untuk difoto oleh pengunjung. Kita masing-masing beli kacang lumayan banyak, karena rasanya memang enak dan beragam, dari pedas, manis, asin, coklat, wijen, dan banyak lagi.. Ukurannya juga guede-guede.. Ada testernya kok.

Aku menghabiskan sekitar 480 THB (ya sekitar Rp. 144.000) untuk membeli 2 bungkus kacang dan 1 kotak kue olahan dari kacang mede. Bungkus dan kotaknya juga cukup gede kok.. lumayan.. Namanya di toko, ga mungkin nawar juga kan.. (happy)

Selesai dari perkebunan, kita ke Gem Gallery.. Sayangnya, ga boleh ada foto di dalam ruang ini. Dan memang, tempatnya luaaaasssss banget. Semacam show area dimana pengunjung bisa mengagumi sekaligus membeli jika berminat. Ada welcome drinknya.. wew (big grin)

Hmff.. aku cape juga muter-muter menemani teman-teman wanita yang antusias membeli perhiasan untuk dirinya atau keluarganya. Kupikir-pikir, budgetku ga akan cukup nanti buat beli oleh-oleh tambahan kalau aku tergoda untuk membeli, dan juga.. aku atau orang tua ga terlalu tertarik memakai perhiasan, walau kita memang seperti wanita biasa yang juga bisa kagum akan kecantikan perhiasan.. Nanti deh, nunggu dibeliin aja. hehehe... (laughing)

Jadinya, aku nunggu di luar setelah cape muter-muter, sedangkan teman-teman seperjalanan masih di dalam mengeksplorasi emas dan perak yang limpah ruah memukau mata pengunjung di dalam ruangan itu.. Pong juga nunggu di luar, tapi kami berada di tempat duduk yang berjauhan..

Setelah beberapa lama, teman-temanku keluar dengan banyak kantong perhiasan yang terborong. kikikik... Pong pinter juga, tau selera wanita-wanita Indonesia ini. (laughing)

Selanjutnya, kita berburu Duren... Kita berhenti di pinggir jalan di mana Pong tau ada tukang duren yang enak. Dia yang menawar, dia yang memilih, dan memang bagus pilihannya.. Durennya unik-unik. Kita makan sekitar 5-6 buah bersama, dan masing-masing duren itu beda bentuknya! Dan beda enaknya! Sama halnya seperti kita makan mangga di Indonesia, beragam mangga, beda warnanya, beda manisnya. Sungguh... enak! Aku sejak kecil sering makan duren, dan mulai bosan ketika sudah beranjak remaja. Jadi kurang terlalu suka makan duren. Tapi kali ini, pengecualian.. abis nyoba satu, nagih! Kita habis sekitar 110 THB untuk 5-6 duren kalau ga salah.. Murahhh banget kan.. untuk duren seenak dan semanis itu.. (thumbs up)

Catatan: jangan lupa, setelah makan duren, kasih air di kulit duren yang cekung, tempat buah-buah duren melekat, lalu minum airnya, biar ga mabuk. Karena bau dan kandungan duren agak memabukkan kan.. (happy) Ini tips dari temenku juga..

Ga lama setelah puas makan duren, kita buru-buru berangkat ke bandara. Yah, berharap saja bau mulut kita ga berbau duren, karena bisa-bisa kita di-ban ga boleh terbang (laughing)

...

Sesampainya kita di Bangkok, kita check in di hotel Rajtaevee The Residence, daerah Petchburi (konon dekat kerusuhan Kaos Merah beberapa hari sebelum kita berangkat ke Bangkok dan ada beberapa korban meninggal (worried)), kita istirahat bentar.. baru deh nanti kita jalan lagi. Biayanya untuk 3 hari senilai 1,150 THB per orang, dan kamar yang kita pesan adalah Family Suite. Itulah untungnya kalau pergi beramai-ramai, hemat pengeluaran.. (big grin)

Daerah ini dekat dengan tempat perbelanjaan, dan memang teman-teman wanitaku sudah menargetkan untuk belanja di dekat hari-hari terakhir kita di Bangkok. Hehehe..

Setelah istirahat, sore itu kita berencana pergi ke Chatuchak Market, semacam pasar malam yang bukanya di weekend saja. Sayang kan kalau ga dimanfaatkan di hari Minggu terakhir itu.. Besok-besok sudah hari biasa dan pasti pasarnya ga buka...

Kita naik BTS, (semacam bus jalur cepat MRT, bedanya kalau di Thailand, MRT di dalam tanah, sedangkan yang di atas itu disebut BTS Skytrain). Kalau di Singapura, semua jenis ini setauku disebut MRT). Kita berjalan sekitar 2 km dari hotel ke stasiun Ratchathewi (N1). Tujuan kita adalah stasiun Mo Chit (N8).

Ini bu polisi sedang memandu kawanku untuk membeli tiket sementara. Kita harus menukarkan koin dulu ke loket, dari uang kertas menjadi koin 5 atau 10 THB. Karena mesin yang mengeluarkan kartu/tiket tersebut menerima koin saja.

Setelah menukar uang kertas menjadi koin, baru kita lihat ke stasiun mana yang kita tuju. Di dekat mesin tersebut, ada peta stasiun dan tarifnya. Kisaran tarifnya dari 20-50 THB. Ke Mo Chit tarifnya 30 THB.






Dari stasiun Mo Chit, tinggal jalan kaki dikit deh.. deket banget dengan Chatuchak Market, atau bisa disebut Jatujak. Di pasar ini, formatnya hampir seperti grosiran. Kalau tujuannya membeli oleh-oleh berupa pernak-pernik Thailand, kayanya ini bukan tempat yang tepat. Tapi kalau mau cari tas, kaos, atau barang lain yang murah, ya.. lumayan tepat..

Pengeluaranku di tempat ini hanya sebagai berikut;
- tempat tissue yang motifnya lumayan bagus, agak khas Thailand.. (6 buah 450 THB, dari harga semula 1 buah 120 THB)
- tas kecil bermotif gajah, akhirnya nemu juga walau hari sudah mulai gelap.. (6 buah 200 THB setelah ditawar.. lupa harga aslinya)

Yah.. lumayan buat latihan menawar untuk orang yang masih amatir sepertiku.. (laughing).

Btw, aku sama sekali ga berani mengeluarkan kamera di sini. Karena tempatnya penuh orang. Kalau di Jakarta, daerah ini seperti daerah Pasar Baru, tapi lebih tradisional lagi.. mungkin mendekati Pancoran Glodok.

Berbasah oleh Pesona Phi Phi (10/07/10)

Kemarin waktu di agen tour, kami diberitahukan bahwa akan ada yang menjemput pukul 8.00. Jadi, kami mulai sarapan jam 7.00 di hotel. Lumayan lama kami menunggu si supir yang terlambat itu. Mungkin karena ia juga harus menjemput beberapa traveller lain di hotel lain, dan yang terakhir adalah kami.

Sesampainya di pelabuhan, kami digiring ke tour guide yang akan membawa kami ke boat tertentu. Masing-masing dapat nomor boat dan nomor meja untuk lunch nanti, dan nomor itu ditempel di baju kita.




Temanku yang mau snorkling, mulai mencari fin yang bisa disewa. Kita menunggu sebentar di pinggir pelabuhan sampai siap naik ke kapal. Fh... Panasnya udara waktu itu.. (whew!)

Perjalanan dimulai ke Phi Phi Leh. Perjalanan sekitar 1 jam 40 menit, kalau aku ga salah ingat. Pagi itu cerah, walau ada masalah tentang kapal yang mogok, penumpang timur tengah yang pervert (worried), dan muatan penumpang yang ternyata bukan untuk 20 orang, tapi lueeeebih! Yah, akhirnya kita pindah kapal di tengah laut, terpisah dari si pervert itu (Alhamdullillah.. walau ketemu tuh orang lagi di spot lain (rolling eyes)), dan penumpangnya lebih sedikit (jadi lebih lega (big grin)).

Catatan: Hati-hati berkenalan dengan orang. Jangan terlalu ramah dan percaya dengan orang yang ga dikenal.








Dan akhirnya sampailah di pulau Phi Phi yang pertama.. Tempatnya dinamakan Maya Bay. Di sini handphone-ku untuk kedua kalinya mati karena kena air laut. Di trip sebelumnya ke Ujung Genteng, handphone-ku kecebur. Sekarang, sudah ditaruh di kantong, ternyata kena ombak yang tinggi ketika aku di pinggir karang (crying) Memang bukan jodohnya untuk kupakai handphone itu lebih lama lagi, hehehe..


Hm.. di sini kita dilarang snorkling atau renang, melainkan boleh foto-foto dulu.. sekitar 0.5 jam. Lalu, setelah itu, kita dibawa agak ke tengah, baru deh yang mau renang/snorkling dipersilakan..

Setelah itu, kita akan lanjut ke Phi Phi Don. Kita berhenti sebentar di dekat suatu gua, kalau ga salah namanya Monkey Cave. Di situ ada semacam restoran sea food katanya, dan mahal. Kita ga turun di situ, hanya berfoto ria.












Dan kapal melanjutkan perjalanan untuk berhenti sebentar di gua monyet yang sebenarnya. Kita bisa memberi makan monyet itu dengan buah atau makanan lain yang diijinkan dan berfoto ria. Di dekat pantai itu, airnya jerniiiihhhh.... sekali (thumbs up) Tapi pasirnya masih lebih halus dan putih di Phi Phi Leh daripada di sini..

Catatan: Kata tour guide-nya, monyet-monyet di sana kurang suka dengan anak kecil, jadi orang tua yang membawa anaknya, harap menjaga anaknya di kapal saja.



















Lalu kita sampai di Phi Phi Don. Kita makan siang dan berfoto di sini.. Makan siang sudah ditakar dalam meja bundar dengan berbagai lauk, dan kita bergabung dengan traveller yang nomor mejanya sama.

Setelah kenyang... aku dan temanku mencari masjid di sekitar sini. Wow.. jauhnya... dari ujung ke ujung. Ya.. sekitar 20 menit jalan kaki.

Dan jangan bilang kalau kita mencari Moslem prayer, tapi bilang kita cari Masjid. Orang-orang sana lebih mengerti itu daripada Moslem prayer (cowboy).


Semua penumpang diminta kembali ke kapal pukul 14.00. Maka setelah shalat, aku dan temanku langsung melaju lari ke kapal karena kita menemukan Masjid saja sudah jam 13.50.. (daripada ditinggal (tongue))









Perjalanan selanjutnya ke Khai Island. Di sini kita benar-benar cuma foto-foto dan menikmati alam. Ada juga yang snorkling di pinggiran, tapi buat apa.. toh ikannya juga sedikit dan kecil-kecil.









Ini foto para wanita (selain aku yang jadi photographer (laughing)) yang ikut dalam perjalanan kami, dari kiri: Maya, Shinta (keduanya teman kuliahku), Mbak Lina, Mbak Hanna. Setelah kami kembali ke kapal, kami beranjak balik ke pelabuhan semula untuk kembali ke hotel. Dan kami yang duduk di pinggir kapal sore itu, basah semua. Debur ombaknya mulai makin kencang karena angin laut sudah mulai memanggil nelayan untuk memancing (happy)

Catatan: Usahakan jangan sampai ada alat snorkling yang hilang, karena Anda akan diminta ganti 10.000 THB. (smug)

Setelah kami sadar, ternyata supir yang menjemput kita dari hotel, menahkodai kita ke Phi Phi Islands, menarik jangkar ketika berlabuh, dan mengantar kita kembali lagi ke hotel, itu satu orang! Heheh.. jadi lelucuan yang menyegarkan sore itu..

Sampai di hotel, kita mandi sebentar, lalu bersiap untuk ke Fantasea. Baru selesai mandi, temanku memanggil kalau mobil jemputannya sudah dateng. Waduh..
Tapi gapapa, kita sebagai penumpang pertama yang dijemput, ga keberatan. Cape yah biar cape sekalian..


Hanya kita bertiga yang ikut nonton Fantasea dari semua teman-teman kita serombongan, melihat gajah-gajah beratraksi dalam sendratari drama.

Waa... akhirnya kita sampai ke Fantasea. Ini ada peta lokasinya di area depan. Tempatnya hampir mirip Dunia Fantasi di Jakarta, Indonesia, tapi luasnya lebih kecil dan lebih seperti karnaval. Kami menunggu pertunjukan gajah jam 8.30 di Palace of the Elephant.

Sementara itu, kita nonton karnaval sebentar, foto-foto sebentar, dan makan malam. Kita makan sate ayam, seafood nugget, dan lupa satu lagi.. @70 THB.

Setelah jamnya dimulai pertunjukan, kita menuju ke Palace. Waktu masuk, segala kamera dan perekam dilarang masuk dan harus dititipkan. Bener-bener ketat hukum.. Bahkan handphone juga ga boleh lho.. ya secara handphoneku juga sudah almarhum, ga penting-penting amat untuk diserahkan ke petugasnya. hehehe

Begitu pertunjukan dimulai di dalam aula besar yang tertutup, aku agak amaze dengan gajah-gajah yang anggung bergerak, panggung yang megah, musik yang dramatis, penari yang serius dalam membawa cerita di setiap geraknya, cahaya yang memukau dan seperti di dalam hutan... (applause) Coba kalau di Indonesia juga diolah sedemikian rupa, dikemas yang apik, banyak legenda-legenda dan budaya yang bisa menjadi aset, benar-benar aset wisata.. hmmff..

Bahkan ada seorang penari yang menarik perhatian temanku, he impressed her very much when he came up in end of show (laughing).

Kenangan yang menyenangkan di Phuket... besok adalah hari terakhir kita di Phuket, dan jauh dari berbasah-basah seperti hari ini (happy)