Tuesday, August 17, 2010

Last Footprint and Last Taste in Phuket (10/07/11)

Setelah kemarin kami kelelahan, nonstop dari pagi wisata pulau lalu malamnya melihat pertunjukan Fantasea, maka hari ini cukuplah sebagai penutup yang manis di Phuket. Kita berencana untuk berputar-putar ke beberapa spot yang direkomendasikan Pong.

Nanti dimulai dari perkebunan kacang mede yang terkenal di Phuket, lalu toko perhiasan yang terkenal juga di Phuket (bahkan katanya terbesar di dunia..), lalu makan duren, dan setelah itu kita balik ke bandara Internasional Phuket untuk kembali ke Bangkok, meneruskan perjalanan yang tertinggal.. (happy)

Sambil menunggu Pong datang, kita bermain dulu di pantai dekat hotel. Nama pantainya pantai Kata. Pasirnya putih, tapi kalah halus dengan yang di Teluk Maya.. (Maya Bay) Pemandangannya indah.

Phuket memang memukau. Sejauh aku pernah ke Bali, Bali pun ga kalah cantik..

Seperti biasa, aku selalu memfoto jejak kaki di tempat di mana aku merasa travel ini patut diingat.. (smug)

Setelah Pong datang, kita langsung berangkat ke perkebunan kacang mede, Sribhurapa Orchid, sekitar 1-2 jam perjalanan kalau aku ga salah..

Tepat di sebelah perkebunan itu, ada tokonya.. dan ada 1 orang pengolah kacang mede yang memang ditugaskan untuk difoto oleh pengunjung. Kita masing-masing beli kacang lumayan banyak, karena rasanya memang enak dan beragam, dari pedas, manis, asin, coklat, wijen, dan banyak lagi.. Ukurannya juga guede-guede.. Ada testernya kok.

Aku menghabiskan sekitar 480 THB (ya sekitar Rp. 144.000) untuk membeli 2 bungkus kacang dan 1 kotak kue olahan dari kacang mede. Bungkus dan kotaknya juga cukup gede kok.. lumayan.. Namanya di toko, ga mungkin nawar juga kan.. (happy)

Selesai dari perkebunan, kita ke Gem Gallery.. Sayangnya, ga boleh ada foto di dalam ruang ini. Dan memang, tempatnya luaaaasssss banget. Semacam show area dimana pengunjung bisa mengagumi sekaligus membeli jika berminat. Ada welcome drinknya.. wew (big grin)

Hmff.. aku cape juga muter-muter menemani teman-teman wanita yang antusias membeli perhiasan untuk dirinya atau keluarganya. Kupikir-pikir, budgetku ga akan cukup nanti buat beli oleh-oleh tambahan kalau aku tergoda untuk membeli, dan juga.. aku atau orang tua ga terlalu tertarik memakai perhiasan, walau kita memang seperti wanita biasa yang juga bisa kagum akan kecantikan perhiasan.. Nanti deh, nunggu dibeliin aja. hehehe... (laughing)

Jadinya, aku nunggu di luar setelah cape muter-muter, sedangkan teman-teman seperjalanan masih di dalam mengeksplorasi emas dan perak yang limpah ruah memukau mata pengunjung di dalam ruangan itu.. Pong juga nunggu di luar, tapi kami berada di tempat duduk yang berjauhan..

Setelah beberapa lama, teman-temanku keluar dengan banyak kantong perhiasan yang terborong. kikikik... Pong pinter juga, tau selera wanita-wanita Indonesia ini. (laughing)

Selanjutnya, kita berburu Duren... Kita berhenti di pinggir jalan di mana Pong tau ada tukang duren yang enak. Dia yang menawar, dia yang memilih, dan memang bagus pilihannya.. Durennya unik-unik. Kita makan sekitar 5-6 buah bersama, dan masing-masing duren itu beda bentuknya! Dan beda enaknya! Sama halnya seperti kita makan mangga di Indonesia, beragam mangga, beda warnanya, beda manisnya. Sungguh... enak! Aku sejak kecil sering makan duren, dan mulai bosan ketika sudah beranjak remaja. Jadi kurang terlalu suka makan duren. Tapi kali ini, pengecualian.. abis nyoba satu, nagih! Kita habis sekitar 110 THB untuk 5-6 duren kalau ga salah.. Murahhh banget kan.. untuk duren seenak dan semanis itu.. (thumbs up)

Catatan: jangan lupa, setelah makan duren, kasih air di kulit duren yang cekung, tempat buah-buah duren melekat, lalu minum airnya, biar ga mabuk. Karena bau dan kandungan duren agak memabukkan kan.. (happy) Ini tips dari temenku juga..

Ga lama setelah puas makan duren, kita buru-buru berangkat ke bandara. Yah, berharap saja bau mulut kita ga berbau duren, karena bisa-bisa kita di-ban ga boleh terbang (laughing)

...

Sesampainya kita di Bangkok, kita check in di hotel Rajtaevee The Residence, daerah Petchburi (konon dekat kerusuhan Kaos Merah beberapa hari sebelum kita berangkat ke Bangkok dan ada beberapa korban meninggal (worried)), kita istirahat bentar.. baru deh nanti kita jalan lagi. Biayanya untuk 3 hari senilai 1,150 THB per orang, dan kamar yang kita pesan adalah Family Suite. Itulah untungnya kalau pergi beramai-ramai, hemat pengeluaran.. (big grin)

Daerah ini dekat dengan tempat perbelanjaan, dan memang teman-teman wanitaku sudah menargetkan untuk belanja di dekat hari-hari terakhir kita di Bangkok. Hehehe..

Setelah istirahat, sore itu kita berencana pergi ke Chatuchak Market, semacam pasar malam yang bukanya di weekend saja. Sayang kan kalau ga dimanfaatkan di hari Minggu terakhir itu.. Besok-besok sudah hari biasa dan pasti pasarnya ga buka...

Kita naik BTS, (semacam bus jalur cepat MRT, bedanya kalau di Thailand, MRT di dalam tanah, sedangkan yang di atas itu disebut BTS Skytrain). Kalau di Singapura, semua jenis ini setauku disebut MRT). Kita berjalan sekitar 2 km dari hotel ke stasiun Ratchathewi (N1). Tujuan kita adalah stasiun Mo Chit (N8).

Ini bu polisi sedang memandu kawanku untuk membeli tiket sementara. Kita harus menukarkan koin dulu ke loket, dari uang kertas menjadi koin 5 atau 10 THB. Karena mesin yang mengeluarkan kartu/tiket tersebut menerima koin saja.

Setelah menukar uang kertas menjadi koin, baru kita lihat ke stasiun mana yang kita tuju. Di dekat mesin tersebut, ada peta stasiun dan tarifnya. Kisaran tarifnya dari 20-50 THB. Ke Mo Chit tarifnya 30 THB.






Dari stasiun Mo Chit, tinggal jalan kaki dikit deh.. deket banget dengan Chatuchak Market, atau bisa disebut Jatujak. Di pasar ini, formatnya hampir seperti grosiran. Kalau tujuannya membeli oleh-oleh berupa pernak-pernik Thailand, kayanya ini bukan tempat yang tepat. Tapi kalau mau cari tas, kaos, atau barang lain yang murah, ya.. lumayan tepat..

Pengeluaranku di tempat ini hanya sebagai berikut;
- tempat tissue yang motifnya lumayan bagus, agak khas Thailand.. (6 buah 450 THB, dari harga semula 1 buah 120 THB)
- tas kecil bermotif gajah, akhirnya nemu juga walau hari sudah mulai gelap.. (6 buah 200 THB setelah ditawar.. lupa harga aslinya)

Yah.. lumayan buat latihan menawar untuk orang yang masih amatir sepertiku.. (laughing).

Btw, aku sama sekali ga berani mengeluarkan kamera di sini. Karena tempatnya penuh orang. Kalau di Jakarta, daerah ini seperti daerah Pasar Baru, tapi lebih tradisional lagi.. mungkin mendekati Pancoran Glodok.

No comments: